Lomba Orienteering Brahmahardika
Ini kali pertama saya ikut lomba orienteering. Stapala (kelompok pencinta alam di kampus saya) mengirimkan dua tim. Sebenarnya saya sebagai peserta cadangan saja. Tapi, berhubung beberapa rekan tim inti berhalangan ikut, saya yang iseng ini, diberangkatkan juga. Lumayan, kapan lagi bisa jalan-jalan ke Solo tanpa membayar biaya apa-apa?
Saya satu tim dengan Brilian a.k.a Chekong, sebagai tim kedua. Tim pertama Stapala diemban oleh Reza a.k.a Reman dan Antonius a.k.a Semut. Selain dua tim, ada seorang offisial yang dipegang oleh Cahyo a.k.a Mbah Terong. Kami ke Solo menumpang kereta Senja Utama yang tiba jam 7 pagi di Stasiun Balapan Solo. Kami tidak mendapatkan tiket bernomor kursi, jadilah kami duduk berhimpit-himpitan di bordes kereta. Tapi tidak masalah, karena menganut prinsip ”bisa tidur kapanpun dan di manapun”, kami yang semuanya bergolongan darah B ini, tetap tidur lelap walaupun sesekali saya sendiri terbangun karena jari-jari kaki terinjak sepatu boot seorang polisi yang menjaga gerbong kereta.
Sebelum menuju sekretariat Brahmahardika (Mapala FKIP UNS Solo), kami sempatkan sarapan nasi liwet di depan stasiun. Rasanya enak dan gurih. Mbah Terong sepertinya hafal benar dengan letak warung nasi liwet itu. Agaknya, dia punya kenangan tersendiri di kota yang damai itu.
Setelah mendaftar, kami istirahat di sektetariat Brahmahardika di Kampus Universitas Negeri Sebelas Maret. Tidur dua-tiga jam. Siangnya ada technical meeting yang diadakan secara resmi dengan mengundang jajaran kampus dan dari Bidang Topografi TNI setempat. Dilakukan pengundian untuk menentukan nomor dada dan nomor urut tim. Tim Chekong dan saya dapat nomor dada 46, nomor yang bagi kami sangat berat karena sudah dikenal seantero dunia sebagai nomor motor tunggangan Valentino Rossi.
ini petanya
ini petanya
Oh ya, mungkin orinteering belum banyak dikenal. Orienteering adalah salah satu cabang olah raga yang mempertandingkan kecepatan dan ketepatan waktu untuk mencapai titik-titik yang telah ditentukan dalam peta. Tidak jarang, titik-titik tersebut harus digambar (di-plot) sendiri oleh peserta karena hanya disediakan petunjuk angka titik koordinatnya saja. Dalam lomba ini dibutuhkan fisik yang prima karena medan yang digunakan umumnya berbukit-bukit, lembah, danau, hutan, ladang, sungai, persawahan hingga perkampungan. Karena waktu adalah sangat penting, peserta dituntut untuk bergerak cepat, artinya berlari melewati medan hingga berjam-jam. Peserta hanya dibolehkan membawa kompas prisma/silva, peta dan jam tangan, tentu saja dengan air minum dan logistik secukupnya.
Lomba dilaksanakan di Tawangmangu, kecamatan yang terkenal sebagai objek wisata, kira-kira 2,5 jam dari kota Solo. Tim 1 Stapala start pada urutan 2 bersama tim-tim lainya. Sedangkan saya dan Chekong start pada urutan 7, juga dengan peserta lainnya. Jumlah peserta laki-laki kurang lebih 34 tim. Sedangkan perempuan, belasan tim saja. Peta diberikan beberapa detik sebelum bendera start dikibarkan. Jadi, peserta tidak bisa langsung berlari karena harus menentukan posisi saat itu dan titik-titik manakah yang ingin dicapai terlebih dahulu.
semangat, Bro!
semut, chekong, dan reman: semangat, Bro!
Setelah sebentar mempelajari peta untuk menentukan posisi dan jalur titik-titik, Chekong dan saya segera berlari menuju titik terdekat. Titik 22. Letaknya disebuah persimpangan jalan kecil perkampungan. Tidak terlalu susah menemukannya. Kami segera mengisi kartu kontrol yang ada di titik tersebut dengan informasi nama tim, waktu tiba, tanda tangan, dan tidak lupa dibubuhi stempel tim. Kami juga membubuhi stempel titik tersebut pada kartu kontrol yang kami bawa.
Titik kedua yang kami incar adalah titik 18, di jembatan di tengah lembah. Ke sananya kami harus menuruni lembah yang kemiringannya lumayan. Prosedur pada titik 22 yang sama kami lakukan pada titik tersebut.
Setelahnya adalah titik 16 yang ada di perkampungan puncak bukit. Artinya setelah tadi menuruni lembah, sekarang harus menaiki bukit, dengan jalan panjang berkelok-kelok. Ya Tuhan, sebenarnya ngapain saya ikut lomba ini?
medan orienteering
medan orienteering di kaki Gunung lawu
Titik di tengan perkampungan dapat kami raih. Setelahnya di pekuburan di puncak bukit sebelah. Kami segera berlari ke bukit itu. Beberapa tim lain ada di sana, tapi tidak ada tanda-tanda sebuah tanda titik. Ternyata, ada dua pekuburan dan hanya satu yang tergambar di peta. Pekuburan yang sebenarnya adalah di bukit yang sebelahnya lagi. Ya Tuhan, berikanlah ketabahan pada kaki-kaki ini…
Dapat titiknya. Kepuasan di hati ini tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Kemudian ke titik 5 jauh di tengah lembah sebelah. Nilainya lumayan, 150. Letaknya dipinggir tikungan jalan, mudah saja terlihat. Tapi titik-titik setelahnya yang lumayan tinggi, Kawan. Titik-titik 3, 4, 6 memang dekat saja terlihat dari titik lima tapi beda ketinggiannya sampai 100 meter. Tim kami memutuskan mengambil titik 6 saja, walau harus menaiki puncak bukit, karena sebelahnya ada titik-titik 7,8,9, dan 10.
Titik 7 yang sedikit ekstrim. Letaknya di tepi jurang dalam. Dan kami harus menaiki sisi jurang untuk mencapainya. Memandang keasrian hutan di sana, membuat kami sedikit melupakan lelah yang membuat kaki bergetar seperti jarum mesin jahit Butterfly. Pemandangannya benar-benar indah. Sungai kecil mengalir di tengah dan bendera titik 7 yang melambai-lambai di puncak tebing di atas sana begitu merayu-rayu.
Aha, bila saya ceritakan semuanya, tentu butuh banyak halaman. Hasil akhir kami memang kalah, walaupun berhasil mengambil 9 titik. Tim satu berhasil mendapatkan 10 titik, dari 23 titik. Tapi, puas rasanya setelah 4,5 jam berlari-lari ke sana kemari; naik turun bukit, menerobos semak-semak, meniti punggungan bukit dan menyusuri lembah. Setidaknya kami sudah berusaha dengan keras, sampai kami tidak sanggup berlari lagi. Juaranya, Dinamik FT UMS Solo, berhasil mendapatkan 18 titik. Sungguh fantastis. Setelah mencari-cari rahasianya, kabarnya atlit mereka terbiasa berlatih berlari endurance paling sedikit dua jam.
Pertunjukkan Reog di kaki Lawu. Bukan budaya negara lain, bukan?
Pertunjukkan Reog di kaki Lawu. Bukan budaya negara lain, bukan?
Kami pulang kembali ke Tangerang, dengan pengalaman baru yang membuat kami penasaran. Minggu depan ada Makopala Orienteering, 16-17 Agustus, di Bogor. Chekong yang masih sangat penasaran sudah digadang-gadang untuk ikut lagi. Reman dan Semut pun agaknya turun lagi. Saya? Entah, tapi saya sepertinya masih penasaran juga.
Kalimongso, Senin, 11 Agustus 2008
“Terima kasih buat rekan-rekan Brahmahardika yang telah menyelenggarakan kompetisi ini. Kapan-kapan datanglah ke Bintaro, ke posko kami tercinta. Pasti kami sambut dengan tangan terbuka :-)”
(dari shavaat.wordpress.com)
Cerita nyasar ke air terjunnya mana?
Uje-810! Kok acara nyasar ke air terjun Grojogan Sewunya ga dimasukin?
daris802
Keep on Moving!
Sering2 ngikut aja..
Nah gitu....
Sering-sering deh keluar, sekalian jadi humas. Buat ngenalin Stapala...
708/spa/02